- Sate Petir Pak Nano: Disambar Sate Petir Racikan Pak Nano yang Bikin Ketar-ketir
- Sagoo Kitchen: Gurih Mantap! Nasi Goreng Kunyit Ayam Bledos di Resto Jadoel
- Melewati Garut? Jangan Lupa Makan Enak Dulu di 5 Tempat Ini
- Hotel Indonesia Natour Raih Penghargaan dari ITTA Foundation
- Beda Tahu Petis Bandung yang Dicicip Jokowi dengan Tahu Petis Semarang
- Redjeki Kuliner: Malas Masak? Pesan Saja Ayam Goreng dan Sayur Lodeh Enak Ini
- Sumber Bestik Pak Darmo: Empuk Gurih Bestik Lidah yang Menggoyang Lidah
- Waroeng Keroepoek : Menikmati Wedang Bergaya Kekinian di 'Cafedangan'
Kayangan Api
- Kabupaten Bangkalan
- Kabupaten Banyuwangi
- Kabupaten Blitar
- Kabupaten Bojonegoro
- Kabupaten Bondowoso
- Kabupaten Gresik
- Kabupaten Jember
- Kabupaten Jombang
- Kabupaten Kediri
- Kabupaten Lamongan
- Kabupaten Lumajang
- Kabupaten Madiun
- Kabupaten Magetan
- Kabupaten Malang
- Kabupaten Mojokerto
- Kabupaten Nganjuk
- Kabupaten Ngawi
- Kabupaten Pacitan
- Kabupaten Pamekasan
- Kabupaten Pasuruan
- Kabupaten Ponorogo
- Kabupaten Probolinggo
- Kabupaten Sampang
- Kabupaten Sidoarjo
- Kabupaten Situbondo
- Kabupaten Sumenep
- Kabupaten Trenggalek
- Kabupaten Tuban
- Kabupaten Tulungagung
- Kota Batu
- Kota Blitar
- Kota Kediri
- Kota Madiun
- Kota Malang
- Kota Mojokerto
- Kota Pasuruan
- Kota Probolinggo
- Kota Surabaya
Dari sumber itu pula, api Pekan Olahraga Nasional ke-15 tahun 2000 di Surabaya diambil untuk kemudian diarak keliling Jawa Timur. Selain itu, Kayangan Api juga dipercaya masyarakat sekitar mempunyai nilai magis dan keterkaitan dengan Kerajaan Majapahit.
Begitu memasuki gapura, tampak berdiri jajaran tiang. Di tengah tiang tersebut terdapat sebuah lingkaran batu. Dari lingkaran itu menguap gelombang panas, sementara api unggun berwarna kuning kemerahan menari-nari tertiup angin.
Konon, nyala Kayangan Api digunakan oleh Empu Kriya Kusuma (nama samaran dari Empu Supagati) untuk pembuatan keris pusaka guna mengembalikan Majapahit dari tangan pemberontak. Sayangnya, cahaya api itu tidak terlalu terlihat di siang hari. Sehingga disarankan sampai dilokasi malam hari jam tujuh keatas. Sekitar 80 meter dari Kayangan Api, mengikuti jalan setapak yang telah disediakan, pengunjung dituntun menuju ke semacam kolam.
KOLAM yang satu ini berbeda dari kolam lainnya. Air keruh kolam itu menggelegak/blukuthuk begitu kira-kira bunyinya, dengan gelembung-gelembung yang menyerupai air mendidih. Aroma belerang tersebar begitu mendekat ke sumber air hangat itu. Masyarakat sekitar menamainya Blekuthuk. Uniknya, air tak akan terasa panas jika disentuh. Dipercaya bahwa air itu punya khasiat menyembuhkan berbagai penyakit.
Empu Kriya Kusuma memang mempunyai keterkaitan yang erat dengan kawasan tersebut. Tak jauh dari Kayangan Api, misalnya, terdapat sebuah pohon beringin besar yang dipagari kayu. Tepat di bawahnya tersusun gundukan batu bata berukuran 20 cm x 30 cm. Ada yang mempercayai di bawah pohon itulah tempat tirakat Empu Kriya Kusuma sambil membuat kerisnya. Salah satu kerisnya yang terkenal adalah Dapur Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo yang kini menjadi pusaka kabupaten.
Batu bata tersebut ada kemiripan dengan batu sejenis peninggalan Kerajaan Majapahit yang banyak tersebar di situs Trowulan. Terlihat dari ukuran batu bata dan tanda boto kluwung atau goresan tiga jari yang membentuk pelangi.
Untuk memasuki kawasan Kayangan Api, pengunjung harus menempuh perjalanan belasan kilometer membelah hutan jati, sawah, dan permukiman penduduk.
Sumber: wisatabjn.blogspot.com

Provinsi
